Senin, 25 Januari 2010

Farmasi Rumah Sakit part 1

Farmasi Rumah Sakit part 1 - Hai teman Asuhan Keperawatan (Askep) Perawat, di Artikel ini yang berjudul Farmasi Rumah Sakit part 1, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik dan ringkas agar mudah di pahami untuk anda baca dan dapat di ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel IFRS part 1, yang kami tulis ini dapat anda pahami dan bermanfaat. baiklah, selamat membaca.

Judul : Farmasi Rumah Sakit part 1
link : Farmasi Rumah Sakit part 1

Baca juga


Farmasi Rumah Sakit part 1


I. LATAR BELAKANG
Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan. Tugas rumah sakit umum adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdayaguna dan berhasilguna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemeliharaan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan rujukan. Guna melaksanakan tugasnya rumah sakit mempunyai berbagai fungsi yaitu menyelenggarakan pelayanan medik, pelayanan penunjang medik dan nonmedik, pelayanan dan asuhan keperawatan, pelayanan rujukan, pendidikan dan pelatihan, pengembangan serta administrasi umum dan keuangan.
Sesuai dengan SK Menkes Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang utuh dan berorientasi pada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Farmasi rumah sakit bertanggung jawab terhadap semua barang farmasi yang beredar di rumah sakit tersebut.
Instalasi farmasi rumah sakit mempunyai tujuan, tugas dan fungsi yang telah ditetapkan. Salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh IFRS adalah memberi manfaat kepada pasien, rumah sakit dan sejawat profesi kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain IFRS memberikan pelayanan yang terbaik untuk pasien, pelayanan bebas kesalahan (zero defect) dan pelayanan bebas copy resep (semua resep terlayani di rumah sakit).
Permasalahan yang akan diuraikan dalam makalah ini adalah menyangkut pelayanan bebas copy resep sehingga cakupan pelayanan resep rawat inap dapat mencapai 100% yang artinya semua resep dapat terlayani di rumah sakit.
Fakta di lapangan pasien tidak mengambil obat di IFRS karena obat yang ditulis dokter tidak tersedia di IFRS ( dapat disebabkan karena obat tersebut tidak tercantum dalam formularium atau karena persediaan obat kosong sebagai dampak dari perencanaan obat yang kurang baik) dan karena sistem distribusi obat yang memungkinkan pasien dapat mengambil obat di tempat lain.
Semua resep untuk pasien rawat inap hendaknya dapat dilayani seluruhnya oleh IFRS agar pasien dapat memperoleh obat dengan cepat, tepat dan mutu obat yang terjamin, agar IFRS dapat memaksimalkan pendapatan bagi rumah sakit.
Oleh karena itu agar dapat meningkatkan pelayanan terhadap pasien dan meningkatkan kepuasan pasien, memaksimalkan pendapatan rumah sakit dari IFRS serta untuk meningkatkan citra rumah sakit di masyarakat maka perlu dilakukan upaya-upaya agar cakupan pelayanan resep pasien rawat inap dapat mencapai 100%.

II. DASAR TEORI

A. Rumah Sakit
Rumah sakit adalah suatu organisasi yang komplek, menggunakan alat ilmiah khusus dan rumit dan difungsikan oleh berbagai kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik modern yang semuanya terikat bersama-sama dalam maksud yang sama, untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik. (Siregar, 2004)
Beberapa ketentuan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 806b/Menkes/SK/XII/1987, tentang klasifikasi Rumah Sakit Umum Swasta, yaitu :
1. Klasifikasi rumah sakit adalah pengelompokkan rumah sakit berdasarkan perbedaan bertingkat dan kemampuan pelayanannya.
2. Rumah sakit umum swasta adalah rumah sakit umum yang diselenggarakan oleh pihak swasta.
3. klasifikasi rumah sakit umum swasta adalah :
a. Rumah Sakit Umum Swasta Pratama, yang memberikan pelayanan medik yang bersifat umum.
b. Rumah Sakit Umum Swasta Madya, yang memberikan pelayanan medik bersifat umum dan spesialistik dalam 4 (empat) cabang
c. Rumah Sakit Umum Swasta Utama, yang memberikan pelayanan medik bersifat umum, spesialistik dan subspesialistik


B. Sistem Formularium
Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) adalah sekelompok penasehat dari staf medik dan bertindak sebagai garis komunikasi organisasi antara staf medik dan IFRS. Pembentukan suatu PFT yang efektif akan memberi kemudahan dalam pengadaan sistem formularium yang membawa perhatian staf medik pada obat yang terbaik dan membantu mereka dalam menyeleksi obat terapi yang tepat bagi pengobatan penderita tertentu.
Sistem formularium adalah suatu metode yang digunakan staf medik dari suatu rumah sakit yang bekerja melalui PFT, mengevaluasi, menilai, dan memilih dari berbagai zat aktif obat dan produk obat yang tersedia, yang dianggap paling berguna dalam perawatan penderita. Hasil utama dari pelaksanaan sistem formularium adalah formularium rumah sakit. Formularium adalah dokumen berisi kumpulan produk obat yang dipilih PFT disertai informasi tambahan penting tentang penggunaan obat tersebut serta kebijakan dan prosedur berkaitan obat yang relevan untuk rumah sakit tersebut yang terus-menerus direvisi agar selalu akomodatif bagi kepentingan penderita dan staf profesional kesehatan, berdasarkan data konsumtif dan data morbiditas serta pertimbangan klinik staf medik rumah sakit tersebut.
Suatu sistem formularium yang dikelola dengan baik mempunyai tiga kegunaan yang memberikan tiga manfaat untuk rumah sakit, yaitu :
1. Untuk membantu meyakinkan mutu dan ketepatan penggunaan obat di rumah sakit.
2. Sebagai bahan edukasi bagi staf tentang terapi yang tepat.
3. Memberi rasio biaya-manfaat tertinggi, bukan hanya pengurangan harga.
Ada tiga unsur kunci yang penting untuk mengadakan dan memelihara suatu formularium yang dapat dipercaya yaitu :
1. Suatu hubungan kerja kolaboratif diantara profesional pelayanan kesehatan di rumah sakit.
2. Staf medik yang ditetapkan yang berpraktek dalam rumah sakit.
3. PFT yang antardisiplin sebagai panitia staf medik.


C. Pelayanan Farmasi Satu Pintu
Pelayanan farmasi satu pintu adalah suatu sistem dimana dalam pelayanan kefarmasian itu sendiri menggunakan satu kebijakan, satu standar operasional (SOP), satu pengawasan operasional dan satu sistem informasi. Sistem pelayanan farmasi satu pintu :
1. Instalasi farmasi bertanggung jawab atas semua obat yang beredar di rumah sakit.
2. Commitment building : memberikan pelayanan yang terbaik untuk pelanggan, pelayanan bebas kesalahan ( zerro defect ), pelayanan bebas copy resep atau semua resep terlayani di rumah sakit.
3. Membangun kekuatan internal rumah sakit terhadap pesaing farmasi dari luar dan mewujudkan keterikatan terhadap pelayanan farmasi RS dengan penyediaan dana gotong royong seluruh jajaran RS.
4. Mewadahi keterikatan tersebut dalam kepemilikan apotek pelengkap.
5. Memberikan kesejahteraan internal melalui jasa pelayanan farmasi dan keuntungan apotek pelengkap.
6. Penerapan sistem formularium RS.
7. Penerapan satu SOP penulisan resep.
8. Penerapan distribusi obat satu pintu.
9. Penerapan skrining resep oleh farmasis.
10. Penyediaan apotek pelengkap mengikuti formularium RS dan berkoordinasi dengan instalasi farmasi.
11. Penerapan SIM farmasi.

Tujuan dari pelayanan farmasi satu pintu adalah untuk meningkatkan pelayanan farmasi di RS sehingga dapat memenuhi kebutuhan yang ditetapkan, memuaskan harapan konsumen, sesuai dengan standar yang berlaku, tersedia pada harga yang kompetitif dan memberi manfaat bagi RS.
Keuntungan pelayanan farmasi satu pintu yaitu :
1. Memudahkan monitoring obat
2. Dapat mengetahui kebutuhan obat secara menyeluruh sehingga memudahkan perencanaan obat.
3. Menjamin mutu obat yang tersedia sesuai persyaratan kefarmasian.
4. Dapat dilaksanakannya pelayanan obat dengan sistem unit dose ke semua ruang rawat.
5. Dapat dilaksanakan pelayanan informasi obat dan konseling obat baik bagi pasien rawat jalan maupun rawat inap.
6. Dapat dilaksanakan monitoring efek samping obat oleh panitia dan terapi.
7. Dapat melakukan pengkajian penggunaan obat di RS, baik obat generik, obat formularium, obat Askes dan lain-lain sesuai dengan program IFRS serta PFT.


D. Sistem Distribusi obat untuk penderita rawat inap
Suatu sistem distribusi obat yang efisien dan efektif sangat tergantung pada desain sistem dan pengelolaan yang baik. Suatu sistem distribusi obat yang didesain dan dikelola baik harus dapat mencapai berbagai hal sebagai berikut :
1. Ketersediaan obat yang tetap terpelihara.
2. Mutu dan kondisi obat/sediaan obat tetap stabil dalam seluruh proses distribusi.
3. Kesalahan obat minimal dan memberi keamanan maksimum pada penderita.
4. Obat yang rusak dan kadaluwarsa sangat minimal.
5. Efisiensi dalam penggunaan sumber terutama personel.
6. Pencurian dan/atau hilang dapat minimal.
7. IFRS mempunyai akses dalam semua tahap proses distribusi untuk pengendalian, pemantauan dan penerapan pelayanan farmasi klinik.
8. Terjadinya interaksi profesional dokter-apoteker-penderita-perawat.
9. Pemborosan dan penyalahgunaan obat minimal.
10. Harga terkendali.
11. Peningkatan penggunaan obat rasional

Pada dasarnya ada empat jenis sistem distribusi obat untuk penderita rawat tinggal yaitu :

1. Sistem distribusi obat resep individual sentralisasi dan/atau desentralisasi
Sistem distribusi obat resep individual sentralisasi adalah tatanan kegiatan penghantaran sediaan obat oleh IFRS sentral oleh sesuai dengan yang ditulis pada resep atas nama pasien rawat tinggal tertentu melalui perawat ke ruang penderita tersebut.


Keuntungan sistem distribusi obat resep individual, yaitu :
a. Semua resep dikaji langsung oleh apoteker, yang juga memberikan informasi pada perawat berkaitan dengan obat penderita.
b. Memberi kesempatan interaksi profesional antara apoteker-dokter-perawat dan penderita.
c. Mempermudah penagihan biaya obat penderita.
d. Memungkinkan pengendalian yang lebih dekat atas perbekalan.
Kerugian :
a. Kemungkinan keterlambatan sediaan obat sampai pada penderita.
b. Jumlah kebutuhan personel di IFRS meningkat.
c. Memerlukan jumlah perawat dan waktu lebih banyak untuk penyiapan obat di ruang pada waktu konsumsi obat.
d. Terjadi kesalahan obat karena kurang pemeriksaan pada waktu penyiapan konsumsi.
Sistem distribusi obat individual desentralisasi adalah tatanan kegiatan penghantaran sediaan obat oleh IFRS desentralisasi sesuai dengan yang ditulis pada resep atas nama pasien rawat tinggal tertentu melalui perawat ke ruang penderita tersebut. IFRS desentralisasi adalah IFRS cabang yang berlokasi di daerah perawatan penderita di suatu rumah sakit, tempat personel IFRS bekerja memberikan pelayanan klinik dan nonklinik.

2. Sistem distribusi obat persediaan lengkap diruang
Sistem distribusi obat persediaan lengkap diruang adalah tatanan kegiatan penghantaran sediaan obat sesuai dengan yang ditulis dokter pada order obat, yang disiapkan dari persediaan di ruang oleh perawat dan dengan mengambil dosis/unit dari wadah persediaan yang diberikan kepada penderita di ruangan itu.
Keuntungan :
a. Obat yang diperlukan segera tersedia bagi penderita.
b. Peniadaan pengembalian obat yang tidak terpakai ke IFRS.
c. Pengurangan penyalinan kembali order obat.
d. Pengurangan jumlah personel IFRS yang diperlukan.
Kerugian :
a. Kesalahan obat sangat meningkat karena order obat tidak dikaji oleh apoteker.
b. Persediaan obat di unit perawat meningkat dengan fasilitas ruangan yang sangat terbatas.
c. Pencurian obat meningkat.
d. Meningkatnya bahaya karena kerusakan obat.
e. Penambahan modal infestasi untuk menyediakan fasilitas penyimpanan.
f. Diperlukan waktu tambahan bagi perawat untuk menangani obat.
g. Meningkatnya kerugian karena kerusakan obat.
3. Sistem distribusi obat kombinasi resep individual dan persediaan di ruang
Rumah sakit yang menerapkan sistem ini selain menerapkan sistem distribusi resep individual sentralisasi juga menerapkan distribusi persediaan di ruangan yang terbatas. Jenis dan jumlah obat yang tersedia di ruangan (daerah penderita) diteatapkan oleh PFT dengan masukan dari IFRS dan dari pelayanan keperawatan. Sistem kombinasi biasanya diadakan untuk mengurangi beban kerja IFRS. Obat yang disediakan di ruangan adalah obat yang diperlukan oleh penderita, setiap hari diperlukan dan biasanya adalah obat yang harganyarelatif murah, mencakup obar resep atau obat bebas.
Keuntungan :
a. Semua resep individual dikaji langsung oleh apoteker.
b. Adanya kesempatan berinteraksi profesional antara apoteker-dokter-perawat-penderita.
c. Obat yang diperlukan dapat segera tersedia bagi penderita (obat persediaan di ruang)
d. Beban IFRS dapat berkurang
Kekurangan :
a. Kemungkinan keterlambatan sediaan obat sampai ke penderita (obat resep individual)
b. Kesalahan obat dapat terjadi (obat dari persediaan di ruang)

4. Sistem distribusi obat dosis unit
Sistem distribusi obat unit dosis adalah metode dispensing dan pengendalian obat yang dikoordinasikan IFRS dalam rumah sakit. Sistem dosis unut dapat berbeda dalam bentuk tergantung pada kebutuhan khusus rumah sakit, akan tetapi unsur berikut adalah dasar dari sistem dosis unit yaitu obat dikandung dalam kemasan unit tunggal, di dispensing dalam bentuk siap dikonsumsi, dan untuk kebanyakan obat tidak lebih dari 24 jam persediaan dosis, dihantarkan ke atau tersedia pada ruang perawatan penderita pada setiap waktu.
Keuntungan :
a. Penderita menerima pelayanan IFRS 24 jam sehari dan penderita membayar hanya obat yang dikonsumsinya saja.
b. Semua dosis yang diperlukan pada unut perawat telah disiapkan oleh IFRS, jadi perawat mempunyai waktu lebih banyak untuk perawatan langsung penderita.
c. Adanya sistem pemeriksaan ganda, sehingga mengurangi kesalahan.
d. Peniadaan duplikasi order obat yang berlebih
e. Pengurangan kerugian biaya yang tidak terbayar oleh penderita.
f. Penyediaan sediaan intravena dan rekonstitusi obat oleh IFRS.
g. Meningkatkan penggunaan personal profesional dan nonprofesional yang lebih efisien.
h. Menghemat ruangan di unit perawat dengan meniadakan persediaan ruah obat-obatan.
i. Meniadakan pencurian dan pemborosan obat.
j. Mengurangi kesalahan obat.
k. Apoteker dapat datang ke unit perawat untuk melakukan konsultasi obat.
l. Peningkatan pengendalian obat dan pemantauan penggunaan obat menyeluruh


III. DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI, 2004, Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1197/MenKes/SK/X/2004
Siregar, CJP., Amalia, L., 2003, Farmasi Rumah Sakit : Teori dan Penerapan, EGC, Jakarta


Itu tadi adalah Farmasi Rumah Sakit part 1

baik Sekianlah artikel Farmasi Rumah Sakit part 1 kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Farmasi Rumah Sakit part 1 dengan alamat link https://ners-ngenes.blogspot.com/2010/01/farmasi-rumah-sakit-part-1.html

0 komentar

Posting Komentar